Topic
Sat,22 June 2013 | Dibaca oleh Pengunjung

Enrekang Jadi Pusat Investasi Listrik

ENREKANG, FAJAR -- Enrekang ternyata menyimpan potensi energi listrik yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, puluhan investor dengan modal raksasa sudah siap menanamkan modalnya sehingga menjadikan Enrekang sebagai pusat investasi listrik.

Dua jenis pembangkit listrik yang diincar adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro. Mantan Kepala Bidang Energi Mineral dan Migas Dinas Pertambangan dan Energi Enrekang, Rudianto yang baru saja melepaskan jabatannya menyebutkan, saat ini sudah ada sepuluh investor yang memastikan membangun PLTA atau pun PLTMH.  

Di antaranya, PT Haji La Tunrung yang mengambil lokasi di Kecamatan Bungin, menanam modal senilai Rp200 miliar. PT Haji La Tunrung membangun pembangkit listrik bertenaga 10 MW. Selanjutnya PT Trisula Sakri Perkasa di Pasui Kecamatan Buntu Batu, dengan investasi senilai Rp44 miliar. PT Gread Colour Energy dari Malaysia, juga mengincar Bungin III dan Bungin V dengan jumlah investasi Rp284 miliar. PT Gread Colour Energy akan membangun pembangkit listrik berkapasitas 10 MW.

Investor lainnya adalah PT Sulawesi Indo Energi di Belajen Kecamatan Alla. Mereka mengincar pembangkit listrik 8,4 MW dengan nilai investasi Rp320 miliar. PT Mega Karya Energi, akan menanamkan Rp200 miliar untuk membangun pembangkit listrik bertenaga 10 MW. Masih ada lagi, PT Trisula Hidro Energi berlokasi di Bungin IV dengan target energi 4 MW. Nilai invertasinya Rp85 miliar.

Namun investasi terbesar akan ditanamkan oleh PT Emiral Terasis Energi. Perusahaan energi ini menyiapkan dana Rp32 triliun dengan mengambil lokasi di Papi Kecamatan Enrekang. Pembangkit listrik yang dibangunnya bisa menghasilkan energi listrik sebesar 300 MW atau setara dengan 300 juta watt.

"Yang paling besar juga nilai investasinya adalah PT Enrekang Hidro Power yang merupakan perusahaan dari Norwegia yang bekerjasama dengan PT Sulawesi Hidro Power. Rencananya itu akan berlokasi di Bungin dengan nilai investasi Rp22 trilun," tambahnya alumnus Geologi Unhas ini.

Beberapa PLTA dan PLTMH sudah selesai dibangun dan ada yang siap difungsikan. Sementara yang lainnya masih sementara direncanakan dan ditargetkan rampung semua dalam waktu lima tahun ke depan. Bagi Enrekang, pembangkit-pembangkit listrik ini tidak saja membuat pasokan energi melimpah, tetapi juga akan mendongkrak pendapatan asli daerah.

Rudi menyebutkan, satu PLTA yang bekapasitas 300 megawatt saja dalam sejam akan menyumbang Rp300 juta kepada Pemda. Itu baru pajak pemakaian air saja. Belum lagi pajak bumi dan bangunannya.

Sebelumnya Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung mengatakan, sungai yang mengalir di Enrekang ini memang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya sebelum mengalir ke daerah lain. Satu hal menguntungkan, karena Enrekang merupakan daerah pegunungan sehingga arus airnya cukup deras. Karena itu cocok untuk investasi PLTA atau pun PLTMH.

"Kita berharap, ke depan akan semakin banyak investor yang tertarik menanam modal di Enrekang sebab kita masih punya banyak lokasi yang memiliki potensi yang cukup besar," harapnya. (iad)

banner