Home » Ekonomi dan Bisnis » Yang Lain

Kamis, 02 Februari 2012 | 01:05:16 WITA | 364 HITS
Kadin Minta Setop Impor Beras
Kesejahteraan Petani Menurun

MAKASSAR, FAJAR -- Kebijakan perberasan di Sulsel sangat ironi. Betapa tidak, ekspor yang menjadi incaran Pemprov Sulsel, yang didapat justru impor.
Masuknya beras impor melalui pintu Sulsel ini mengundang reaksi keras dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel. Kebijakan impor beras oleh Bulog melalui pintu Sulsel tidak sejalan dengan pembahasan Kadin dan Presiden SBY beberapa waktu lalu.
"Dalam pertemuan Kadin dan pemerintah, Presiden sudah menekankan bahwa Sulsel bebas dari impor. Nyatanya Bulog melakukan impor menggunakan pintu masuk Sulsel. Ini harus disikapi, jangan 50 ribu ton, 1 liter pun tidak boleh ada beras impor masuk Sulsel," kata Ketua Kadin Sulsel, Zulkarnain Arief, Kamis, 2 Februari.
Menurut dia, impor beras yang direncanakan 50 ribu ton melalui pintu masuk Sulsel harus ditolak. Dia beranggapan kebijakan ini, justru akan menguras penghasilan petani. "Kenapa kita harus memperkaya petani Thailand, sementara produksi beras kita melimpah," katanya.
Zulkarnain menyebutkan dari 2,9 juta ton produksi beras tahun lalu, hanya 900 ribu ton yang dikonsumsi masyarakat Sulsel. "Kalau kita impor, sama halnya kita 'membunuh' petani kita sendiri. Bagi kami, apa salahnya kalau petani menikmati harga beras yang tinggi. Kalau keinginan pasar demikian Kadin no problem," tegas Zulkarnain dengan nada tinggi.
Dalam posisi surplus sekira 2 juta ton, menurut dia, sangat tidak realistis pemerintah melakukan impor. Karena menurut dia, beras asal Thailand itu dibeli dengan harga lebih mahal dari beras lokal. "Beras itu sebenarnya mahal karena sudah disubsidi berupa bebas bea impor. Ini kan sama halnya menghidupi petani Thailand melalui subsidi bea impor dan membunuh 'petani' dalam negeri dengan berupaya menekan harga serendah mungkin," tutur Zulkarnain.
Menurut dia, kebijakan pangan khususnya beras ini, sangat tidak realistis. Dia malah menginginkan subsidi bea impor itu dialihkan ke subsidi untuk pembangunan infrastruktur pertanian yang sudah 60 persen rusak. "Kalau infrastruktur dibenahi, produksi pasti naik. Kalau sekarang rata-rata hanya 6-10 ton per hektare, dengan infrastruktur dan subsidi benih berkualitas saya yakin bisa menyamai Thailand yang rata-rata menghasilkan 15-20 ton per hektare," tuturnya.
Bila kebijakan pangan dengan memacu produksi dalam negeri melalui pendekatan subsidi infrastruktur, benih, dan pupuk, Indonesia tidak akan ketergantungan pada Thailand atau Vietnam. "Kan aneh negara sekecil Thailand dan Vietnam lebih unggul dibandingkan kita," katanya.
Zulkarnain juga mengatakan sangat optimis jika infrastruktur dibenahi, Sulsel bisa menghasilkan sampai 7 juta ton per tahun. "Dengan produksi 7 juta ton dan kebutuhan kawasan Timur Indonesia hanya 5,2 juta ton per tahun, berarti kita masih surplus dan kita memiliki peluang untuk mengekspor. Pemerintah tidak perlu lagi tergantung pada negara lain yang pasti akan mendikte kita," jelasnya.
Soal impor beras 7.500 ton yang sudah masuk di Gudang Lapadde melalui Pelabuhan Parepare, dia meminta agar diawasi ketat. "Jangan sampai beras itu meluber ke pasar dan merugikan petani kita," tandasnya.
Nilai Tukar Petani Turun
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Sulsel, Bambang Pramono menjelaskan, nilai tukar petani (NTP) di sejumlah desa di Sulsel, mengalami penurunan sebesar 0,40 persen di Januari 2012, dari 108,29 menjadi 107,86. NTP merupakan indikator untuk melihat daya beli petani, yang angka dasarnya 100.
"Ini disebabkan karena indeks harga hasil produksi pertanian tak mengalami peningkatan yang tinggi," ujarnya. Sementara, harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga petani, termasuk harga pupuk dan bibit, dana alat untuk mengelola pertanian, mengalami kenaikan yang lebih tinggi," ungkapnya. Dalam artian, meskipun Sulawesi Selatan surplus beras, itu belum membawa dampak baik bagi kalangan petani.
Bambang menambahkan, dari sejumlah subsektor yang berkontribusi terhadap NTP, Tanaman Padi dan Palawija berkurang sampai 0,18 persen, yaitu 110,83. (sbi/upi/sil)

  Comment on Facebook  

Redaksi: redaksi[at]fajar.co.id
Informasi Pemasangan Iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus[at]fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext. 1437).
 

Nasional

Kamis, 17 Mei 2012 JAKARTA -- Wakil Ketua DPD La Ode Ida (Senator Sulawesi...

Kamis, 17 Mei 2012 JAKARTA, FAJAR -- Black box berisi cockpit voice recorder...

Kamis, 17 Mei 2012 JAKARTA, FAJAR -- Tim investigasi dari Komite Nasional...

Kamis, 17 Mei 2012 JAKARTA, FAJAR -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi...

Politik

Kamis, 17 Mei 2012 MAKASSAR, FAJAR -- Sejumlah kandidat calon wali kota...

Kamis, 17 Mei 2012 MAKASSAR, FAJAR -- Pasangan Ilham Arief Sirajuddin dan Aziz...

Kamis, 17 Mei 2012 MAKASSAR, FAJAR -- Dinamika penentuan calon gubernur Sulsel...

Kamis, 17 Mei 2012 MAKASSAR, FAJAR -- Kandidat calon gubernur Sulsel, Andi...

Hukum

Rabu, 16 Mei 2012 MAKASSAR,FAJAR -- Sidang dugaan penyelewengan dana Bantuan...

Selasa, 15 Mei 2012 JAKARTA -- Tersangka kasus suap dan tindak pidana pencucian...

Sabtu, 12 Mei 2012 JAKARTA  -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)...

Selasa, 08 Mei 2012 WATAMPONE, FAJAR -- Dugaan adanya aliran dana kredit fiktif...

Ekonomi

Kamis, 17 Mei 2012 JAKARTA, FAJAR -- Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali...

Kamis, 17 Mei 2012 JAKARTA, FAJAR -- Menkeu Agus Martowardojo telah menetapkan...

Rabu, 16 Mei 2012 JAKARTA -- Walaupun selama lima tahun terakhir ini jumlah...

Rabu, 16 Mei 2012 JAKARTA, FAJAR -- Untuk mengurangi pengangguran di...

Hiburan

Kamis, 17 Mei 2012 JAKARTA, FAJAR -- Vokalis Band Nidji, Giring, mengaku...

Kamis, 17 Mei 2012 Penolakan Markas Besar Kepolisian mengeluarkan izin untuk...

Kamis, 17 Mei 2012 JAKARTA -- Pelawak Sule, berencana memboyong keluarganya...

Rabu, 16 Mei 2012 JAKARTA, FAJAR -- Polda Metro Jaya menolak terselenggaranya...

Internasional

Kamis, 17 Mei 2012 KUALA LUMPUR, FAJAR -- Mahasiswa asal Sulsel menunjukkan...

Senin, 14 Mei 2012 KUALA LUMPUR, FAJAR -- Ikatan Mahasiswa Sulawesi Selatan...

Sabtu, 12 Mei 2012 MOSKOW, FAJAR -- Kecelakaan pesawat buatan Sukhoi yang...

Rabu, 09 Mei 2012 ARAB SAUDI -- Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono melalui...