![]() |
|
Home »
Metro News »
Yang Lain
Jumat, 27 Januari 2012 | 00:01:07 WITA | 668 HITS ANALISIS Kemiskinan dan Harga BBM Dok/Fajar
Muhammad Syarkawi Rauf Pemerintah terkesan gamang dalam menghadapi kecenderungan peningkatan beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Beban subsidi BBM ditambah dengan subsidi energi telah mencapai angka lebih besar dari 150 triliun. Atau sekitar 15 persen dari APBN pada tahun 2012 yang diperkirakan mencapai 1.400 triliun rupiah. Permasalahan harga BBM sulit dipecahkan. Hal ini terkait dengan peranan BBM sebagai sumber energi utama tidak hanya untuk transportasi tetapi juga untuk industri. Kenaikan harga BBM akan mendongkrak biaya transportasi yang memang sudah tinggi. Hal ini meningkatkan beban biaya pengusaha yang pada akhirnya ditanggung oleh konsumen dalam bentuk harga produk yang semakin mahal. Artinya, menaikkan harga BBM (mengurangi subsidi) akan berdampak langsung terhadap harga barang kebutuhan pokok. Kenaikan harga BBM membuat inflasi naik. Tidak berhenti di situ, kenaikan inflasi akan menggiring jutaan penduduk Indonesia yang semula berada di sekitar garis kemiskinan menjadi miskin dan yang berada di bawah garis kemiskinan menjadi semakin miskin (the depth of poverty). Namun, mempertahankan harga BBM pada harga seperti sekarang dengan harga minyak dunia yang cenderung meningkat juga bukan pilihan yang bijak. Dana subsidi BBM yang jumlahnya ratusan triliun rupiah dapat dialihkan penggunaannya untuk membangun infrastruktur jalan hingga ribuan kilometer. Setiap kebijakan selalu ada trade off dalam bentuk biaya yang harus ditanggung dan manfaat yang diterima. Dimana di satu sisi menaikkan harga BBM akan menambah jumlah penduduk miskin baru. Namun di sisi lain, mengurangi beban subsidi jika dialokasikan dengan baik untuk membangun infrastruktur akan menciptakan lapangan kerja baru serta ikut mendorong berkembangnya kegiatan bisnis (ada multiplier effect). Sebagai gambaran dalam satu tahun terakhir, pengalaman hampir semua negara di Asia kecuali Indonesia, telah menaikkan harga BBM di dalam negerinya. Langkah ini sebagai respons terhadap kenaikan harga minyak dunia yang pernah mencapai 120 dollar AS per barrel. Kenaikannya bervariasi dimulai dari 9 - 16 persen. Kenaikan harga BBM tertinggi terjadi di Filipina dan Singapura (minyak solar), yaitu masing-masing sekitar 11 dan 16 persen. Kebijakan Respons Kebijakan respons negara-negara Asia menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM merupakan pilihan yang sulit dihindari. Namun dalam kasus Indonesia, pemerintah masih lebih memilih menambah subsidi dengan cara melakukan penghematan anggaran (switching anggaran) dibandingkan menaikkan harga BBM. Artinya, pemerintah terpaksa mengurangi anggaran pembangunan jalan demi untuk mensubsidi BBM yang sebenarnya lebih banyak dinikmati oleh kelompok kaya. Kelompok masyarakat kayalah yang lebih haus BBM dengan kendaraan roda dua dan roda empat miliknya. Sementara penduduk miskin tidak banyak menikmati subsidi karena mobilitasnya yang rendah. Penduduk miskin tidak banyak menggunakan kendaraan bermotor. Menghindari pilihan kebijakan menaikkan harga BBM bisa dipahami karena setiap kenaikan harga BBM akan ikut mendorong kenaikan inflasi. Sebagai contoh, kenaikan harga BBM sekitar Rp2.100 pada tahun 2005 menjadi Rp4.500 per liter memicu inflasi tahunan menjadi 17,11 persen (year on year). Demikian juga dengan tahun 2008, kenaikan harga BBM sekitar Rp1.500 menyebabkan inflasi menjadi 11,06 persen. Pada dasarnya, pemerintah memiliki tiga opsi terkait harga BBM, yaitu: (1) Menaikkan harga BBM bersubsidi dengan pengecualian untuk angkutan umum yang diberikan cash back sehingga secara riil tidak mengalami kenaikan. (2) Perpindahan konsumsi BBM kendaraan pribadi dari premium ke pertamax, dengan asumsi harga pertamax hanya sekitar Rp8.000 per liter. (3) Penjagaan dengan menggunakan sistem kendali (terdapat sistem penjatahan). Setiap pilihan kebijakan akan memberikan biaya dan manfaat yang berbeda-beda. Namun menurut hemat saya, opsi menaikkan harga BBM merupakan pilihan kebijakan yang paling rasional dan realistis. Artinya, harga BBM bersubsidi secara bertahap harus diupayakan mendekati harga keekonomiannya, yaitu sekitar Rp8.000 – Rp8.500 per liter. Sehingga pemerintah seharusnya sudah memiliki kerangka waktu yang jelas untuk membuat harga BBM domestik sama dengan harga pasar. Hal ini penting dan mendesak mengingat alokasi anggaran untuk membangun infrastruktur akan memberikan benefit yang lebih besar dibandingkan menghabiskan anggaran untuk mensubsidi BBM. Subsidi BBM selama ini lebih dari 70 persen dinikmati oleh orang kaya dan kurang dari 30 persen dinikmati oleh masyarakat miskin. Harap maklum, pilihan menaikkan harga BBM menjadi semakin sulit bukan semata-mata karena alasan dampak negatifnya terhadap inflasi dan kemiskinan. Tetapi karena pemerintah saat ini lebih mementingkan citra positif. Jangan lupa, pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang cerdas dan tetu saja berani. Dalam hal ini, berani menanggung risiko terhadap setiap kebijakan yang diambilnya meskipun tidak populis termasuk dalam upaya menaikkan harga BBM. Comment on Facebook
Redaksi: redaksi[at]fajar.co.id Informasi Pemasangan Iklan Hubungi Mustafa Kufung di mus[at]fajar.co.id Telepon 0411-441441 (ext. 1437). |
Berita Utama:
» 23 Februari 2012
Yakin Menang Tanpa Rooney » 23 Februari 2012 Indosmelt Inves Rp5 T di Maros » 23 Februari 2012 Menpora "Amankan" Nazaruddin » 23 Februari 2012 Legislator Penerima Bansos Terungkap » 23 Februari 2012 Partai Demokrat Diasingkan di Pilkada Berita Populer:
» 02 Maret 2011
Beli TV di Metro, Langsung Rusak » 07 Februari 2011 Julia Perez, Sex, Lying & Love » 05 Mei 2011 Krisdayanti, Bercerai Gara-gara Ranjang » 07 Februari 2011 Video Porno Luna, Ariel Diduga Melanggar HAM » 02 Maret 2011 Bisa Video Chat di Facebook » 22 Maret 2011 Syahrini, Sindir Anang Lewat Lagu » 25 Januari 2011 Mahasiswa UGM Mengaku Pembuat Jejak UFO di Sleman |
Grup Fajar |
Mitra Fajar
Sumatera Ekspres
| STIM NITRO
| Rakyat Aceh
| Kaltim Post
| Jawa Pos
| Info Indo
| Indo Pos
| Graha Pena
| FIPO
|
|
FAJAR TV
NasionalKamis, 23 Februari 2012 Rabu, 22 Februari 2012 Rabu, 22 Februari 2012 Rabu, 22 Februari 2012 PolitikKamis, 23 Februari 2012 Kamis, 23 Februari 2012 Kamis, 23 Februari 2012 Kamis, 23 Februari 2012 HukumRabu, 22 Februari 2012 Selasa, 21 Februari 2012 Senin, 20 Februari 2012 Sabtu, 18 Februari 2012 EkonomiRabu, 22 Februari 2012 Rabu, 22 Februari 2012 Selasa, 21 Februari 2012 Selasa, 21 Februari 2012 HiburanKamis, 23 Februari 2012 Kamis, 23 Februari 2012 Rabu, 22 Februari 2012 Rabu, 22 Februari 2012 InternasionalRabu, 22 Februari 2012 Rabu, 22 Februari 2012 Rabu, 22 Februari 2012 Rabu, 22 Februari 2012 |

JAKARTA, FAJAR -- Andi Alifian Mallarangeng kembali...
Kecelakaan lalu lintas dengan melibatkan angkutan umum,...
MULAI April nanti, tiket elektronik busway akan berubah....
SEKITAR 2,3 juta jiwa warga DKI Jakarta masih belum terekam...
JAKARTA, FAJAR -- Kemungkinan tidak beresnya data penduduk...
MAKASSAR, FAJAR -- Pasangan Semangat Baru Sulsel, Sulsel,...
MAKASSAR,FAJAR -- Punggutan Liar (Pungli) terkait...
LAPORAN Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan...
JAKARTA -- Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi...
Nama Miranda Swaray Gultom makin fenomenal belakangan ini....
MAMUJU -- Pascapelarangan eksport rotan mentah, kondisi...
JAKARTA - Sempat terhenti mulai 2009 sampai sekarang,...
JAKARTA -- Pemerintah akan membuat cadangan beras baru...
JAKARTA -- Presiden Direktur PT Schroder Investment...
JAKARTA - Perceraian sepertinya sama sekali tidak...
MAKASSAR, FAJAR -- Film Republik Twitter menjadi salah satu...
YUNANI - Setelah sekitar 13 jam melakukan perundingan,...
SANAA--Rakyat Yaman akhirnya memilih presiden baru sebagai...
DUBLIN, FAJAR -- Wakil Presiden (Wapres) China, Xi Jinping,...