Topic
Thu,21 November 2013 | Dibaca oleh Pengunjung

Dapil Wotu-Burau Paling Ketat

MALILI, FAJAR -- Daerah pemilihan (Dapil) 3 yang meliputi Kecamatan Wotu dan Burau paling ketat di Luwu Timur. Lima incumbent atau petahana dari parpol berbeda ikut berebut jatah.

Para petahana yang bertarung adalah KH Abdul Aziz (PKB), Andi Syaukani (PAN), H Hasan (PPP), Sukri bin Saing (Partai Demokrat), dan Sukman Sadika (Partai Golkar).

Pada Pemilu 2009 lalu, para petahana itu meraih suara signifikan. Sukman, misalnya, yang kini menjadi ketua DPRD, meraih lebih 2.000 suara di Dapil 3.

Jika lima petahana mampu mempertahankan kursinya, maka caleg pendatang baru tinggal berebut dua kursi. Persaingan dipastikan ketat.

Namun, sejumlah caleg nonpetahana mengaku tidak berkecil hati. Caleg Hanura, Irwan Setiawan yakin bisa bersaing. Bahkan, dia optimistis bisa mengalahkan caleg berstatus petahana.

Irwan mengaku sudah bersosialisasi selama beberapa tahun belakangan. Dia juga aktif menggalang dukungan dari kalangan pemuda. Makanya, dia tidak terlalu khawatir.

Caleg PAN di Dapil 3, Juddin juga juga mengaku punya strategi mengalahkan petahana. "Kita tidak perlu muncul di permukaan dahulu," katanya membeberkan strateginya.

Di dapil lain, persaingan juga ketat, meski tak seketat Dapil 3. Beberapa caleg berstatus petahana yakin aman.

Caleg PKPI dari Dapil Nuha, Towuti, dan Wasponda, Pdt Yeheskiel Nari Toding mengatakan petahana tidak perlu takut terhadap pendatang baru.

"Kinerja kita sudah terukur selama empat tahun lebih berada di dewan," ungkap Yeheskiel, peraih 2,088 suara pada Pemilu 2009.

Anggota Komisi II DPRD Luwu Timur ini, merasa sudah menjalankan tugas sebagai wakil rakyat selama ini. Komunikasi dengan konstituen juga berlangsung sangat baik.

Caleg petahana asal Partai Demokrat, Herdinang mengatakan hal senada. "Inilah yang membedakan kami dengan caleg baru," ujar Herdinang yang meraih 502 suara pada Pemilu 2009.

Untuk mengadang petahana, sejumlah caleg menyiapkan modal finansial. Apalagi, ada kecenderungan bahwa pemilih saat ini makin pragmatis.

"Dukungan yang diberikan kepada caleg tertentu dalam waktu singkat bisa dialihkan kepada caleg lain," jelas Amran, sekretaris DPD Gerinda Luwu Timur, yang ikut jadi caleg.

Bahkan, lanjutnya, baliho yang sudah terpasang bisa tiba-tiba terganti oleh baliho caleg lain. Setelah ditelusuri, kondisi itu dipicu politik uang yang dilakukan caleg tertentu.

Caleg Partai Golkar, Najamuddin mengakui sikap pragmatis pemilih. Namun, caleg asal Dapil Malili dan Angkona ini berharap pemilih segera sadar bahwa sikap itu keliru.

Masyarakat diminta tidak menggadaikan harga dirinya dengan uang Rp100 ribu. Caleg terpilih nanti tidak akan memperjuangkan kepentingan rakyat karena merasa sudah membayar lunas suara yang dia peroleh. (shd/sap)

banner