Topic
Fri,04 October 2013 | Dibaca oleh Pengunjung

Kasus Akil Seret Gubernur Banten

JAKARTA, FAJAR -- Tertangkap tangannya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar bakal merembet ke mana-mana. Apalagi, salah satu penyuap yang ikut tertangkap, Tubagus Chaeri Wardhana merupakan adik dari Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Ujung-ujungnya, sang gubernur kini dicegah bepergian ke luar negeri oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama enam bulan ke depan.

Belum tahu pasti mengapa nama Atut tiba-tiba muncul dalam daftar cegah. Jubir KPK Johan Budi SP hanya bisa memastikan kalau hubungan darah tidak serta-merta membuat seseorang dicegah. Saat disinggung apakah Gubernur perempuan pertama di Indonesia itu ikut memberi suap, Johan mengaku tidak tahu.

"Pencegahan dilakukan supaya saat KPK membutuhkan keterangannya, dia tidak sedang berada di luar negeri," jawab Johan. Di samping itu, dia juga memastikan pencegahan itu muncul terkait dengan kasus yang sedang dilakukan KPK yakni penyidikan dugaan suap terkait sengketa pilkada di Lebak.

Pencegahan tersebut membuat Ratu Atut bakal bertatap muka dengan penyidik. Belum ada jadwal pasti kapan pasangan Rano Karno di pucuk pemerintahan Provinsi Banten itu akan dipanggil ke markas KPK. Johan menyebut pemanggilan Atut tergantung pada strategi penyidik.

Apakah pencegahan Atut juga membuatnya rawan menjadi tersangka, Johan menyebut itu terlalu dini. Alasannya, hingga kini belum ada pemeriksaan karena kasus tersebut baru saja ditangani KPK. "Proses pengembangan belum ada karena pemeriksaan tersangka dan saksi juga belum dimulai," jelasnya.

Meski demikian, bukan tidak mungkin hasil pemeriksaan saksi dan tersangkan akan menyeret beberapa pihak lain. Biasanya, arah pengembangan kasus fokus pada dua hal. Yakni, ada tidaknya pemberi dan penerima lain diluar yang telah ditetapkan jadi tersangka. "Tapi, dasarnya nanti pada temuan penyidik," katanya.

Pencegahan itu membuat Atut yang berencana berangkat haji pada 9 Oktober nanti juga tidak bisa berangkat. Meski KPK membuka peluang agar Atut mengirimkan surat permohonan supaya bisa tetap menuju tanah suci, besar kemungkinan KPK menolak. Ada kekhawatiran yang bersangkutan tak kembali ke Indonesia.

Ketua KPK Abraham Samad sebelumnya sudah memberikan kode kalau tertangkapnya Akil dan Wawan "sapaan Tubagus Chaeri Wardhana" tidak berhenti di situ. Abraham yakin pada prinsip korupsi yang tidak pernah dilakukan sendiri dan ada sistem besar yang terlibat. Itulah kenapa, dalam sprindik untuk Wawan tertulis dan kawan-kawan.

Walau tidak membuka siapa saja nama-nama terkait tersangka Wawan, Samad menyebut bakal ada pencegahan-pencegahan. Ternyata, tidak lama setelah KPK mengumumkan daftar tersangka Ratu Atut langsung dicegah. "Semua akan terlihat nanti," katanya.

Jika benar Ratu Atut terlibat dalam suap tersebut dan menjadi tersangka, dia bakal kehilangan posisinya sebagai orang nomor satu di Banten. Sebab, aturan jelas menyebut kalau jabatannya harus dilepas saat menjadi tersangka. Bahkan, bukan tidak mungkin dinasti keluarga Atut di pemerintahan maupun DPR ikut terusik.

Dinasti Atut dalam dunia politik dan bisnis memang cukup menggurita. Diawali dari kisah Chasan Sochib, seorang jawara Banten. Dia berhasil mengantar anggota keluarganya menempati posisi penting dengan menjadi kepala dan wakil kepala daerah. Yang terkenal adalah Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.

Ada yang menarik dari sosok Atut, ternyata dia tergolong kepala daerah yang malas melaporkan harta kekayaan. Dari daftar Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) KPK yang bisa diakses, menunjukkan kalau Atut terakhir lapor pada 6 Oktober 2006. Itu artinya, sudah tujuh tahun Atut tidak memperbarui laporan hartanya.

Dari laporannya saat itu, harta Atut hampir mencapai Rp 42 miliar atau detilnya Rp41.937.757.809. Rinciannya, Harta bergerak Ratu Atut seperti mobil dan motor adalah Rp 3,93 miliar. Diikuti dengan sementara harta bergerak lainnya seperti logam dan batu mulia senilai Rp8,22 miliar.

Sementara itu, rumah Wawan yang terdapat di Jalan Denpasar, Jakarta, siang kemarin tampak sepi. Pada Kamis, 3 Oktober malam rumah itu menjadi sasaran penyidik KPK untuk digeledah. Kemarin, tidak tampak aktifitas penghuni rumah yang terdiri dari tiga kavling dan bertingkat dua tersebut.

Salah seorang satpam yang bernama Erick Robika tidak bersedia menjawab pertanyaan yang dilontarkan sejumlah wartawan yang menunggu di rumah Wawan. Sebenarnya ada beberapa orang yang hendak masuk rumah tersebut. Namun melihat adanya wartawan, kendaraan yang sebelumnya berhenti di depan pagar memilih untuk pergi.

Beberapa mobil juga masih menghiasi car port rumah Wawan. Ada empat kendaraan, masing-masing Toyota Innova  B 1558 RFY, Bentley B 888 GIF, Land Cruiser B 888 TCW, dan Land Cruiser Prado B 1978 RFR. Kendaraan-kendaraan mewah lainnya yang seperti Ferrari, Bentley, Nissan GTR, Rolls Royce, dan Lamborghini diduga masih di dalam garasi rumah yang beralamat di Jalan Denpasar IV/35 itu.

Salah seorang pengamanan komplek Husein, menuturkan Wawan lebih sering terlihat di rumah tersebut dibanding Airin. Menurut Husein, Wawan kerapkali memberikan uang pada penjaga komplek. Kebetulan di ujung rumah Wawan memang ada pos satpam komplek perumahan.

"Kadang kalau ke sini sebelum memasukan mobilnya, memanggil yang berjaga di pos. Kalau seperti itu biasanya kami diberi uang," paparnya. Husein juga pernah meminta sumbangan untuk acara komplek dan selalu diberi oleh Wawan. (jpnn/pap)

banner