Topic
Sat,01 June 2013 | Dibaca oleh Pengunjung

Penentuan Kios Sistem Undian

MAKASSAR, FAJAR -- Penentuan kios yang akan ditempati para pedagang Makassar Mall akan dilakukan dengan cara pengundian (lot). Cara ini dianggap  paling relevan untuk meminimalisasi konflik sesama pedagang mengenai kios penjualan.

Ketua Asosiasi Pedagang Makassar Mall (APMM), M Sahib mengungkapkan, jika kepemilikan kios dilakukan dengan cara penunjukan, maka peluang terjadinya kecemburuan sesama pedagang sangat besar. Makanya, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain sistem lot.

Kendati belum ada Memorandum of Understanding (MoU) antara APMM dan PT Melati Tunggal Inti Raya (MTIR) mengenai pembagian kios, namun kemungkinan model lot inilah yang akan dipakai. Saat APMM rapat penentuan, pihak MTIR juga hadir saat itu.

"Hasil rapat APMM, pembagian kios memang akan diundi. APMM bersama MTIR bekerja sama melakukan pengundian," ujar Sahib kepada FAJAR, Jumat 31 Mei.

Sahib menyebut, cara pengundian seperti ini dianggap yang paling adil oleh para pedagang di Makassar Mall. Makanya saat mekanisme pembagian kios itu dibahas, sebagian besar pedagang hadir dan menyepakatinya. Hanya sajam kata Sahib, sistem lot juga memiliki kelemahan.

Kelemahan yang dimaksud, yakni pedagang tidak bisa lagi memilih sesuai kehendaknya untuk menempati kios tertentu yang dianggapnya lebih baik dan strategis. Sistem lot akan memastikan semua mendapatkan kios, tetapi tempatnya tidak pasti di bagian mana. Yang pasti, akan ada yang mendapatkan bagian belakang dan pojok.

"Itu sudah konsekuensi dengan sistem undian jika ada yang mendapatkan bagian belakang. Inilah cara yang paling adil dalam pembagian kios," imbuh Sahib.

Yang pasti, lanjut Sahib, keinginan pedagang adalah menempati lantai basement, dasar, dan I. Hal ini juga berlaku sebagaimana bangunan Makassar Mall sebelum terbakar pada 2011. Di tiga lantai ini, sebagian besar pedagang lama akan ditempatkan dan mereka akan mendapatkan kompensasi dari MTIR.

Terpisah, kuasa hukum PT MTIR, Fanny Anggraini mengungkapkan, keinginan mayoritas pedagang juga akan menjadi salah satu pertimbangan untuk pembagian kios tersebut. Hanya saja, menurut dia, belum ada konsep baku yang akan dipakai mengenai pembagian tersebut.

Fanny mengaku sepakat bahwa para pedagang tidak boleh satu per satu memilih kios yang akan dipakai karena desain Makassar Mall telah berubah. Dengan demikian, salah satu alternatif yang akan dipakai adalah sistem lot tersebut. Namun bukan berarti mekanisme lain tidak boleh dipakai.

"Tidak boleh lagi memilih sesuai tempatnya dulu karena desain sudah berubah. Itu kita akan kompromikan. Jadi nanti akan dikembalikan kepada pedagang sesuai maunya," ujarnya.

Fanny mengungkapkan, pedagang memang memiliki banyak keinginan, sehingga tidak semuanya bisa diakomodasi. Yang bisa dilakukan adalah mengambil aspirasi mayoritas. Jika sistem lot dianggap yang paling efektif, maka bisa saja MTIR juga akan mengikuti. Tapi syaratnya, semua pedagang harus ikhlas menerima di mana pun posisi kios yang didapatkan setelah pengundian. (*)

banner