|
Opini
Selasa, 09-02-10 | 21:37 | 38 View
Bagai Bunga-bunga Oleh: M Qasim Mathar
M Qasim Mathar Alhamdulillah, ke-Islaman kaum Muslimin majemuk, beraneka corak. Berangsur-angsur kaum Muslimin bertambah sadar bahwa mustahil menyeragamkan ke-Islaman mereka.
Kesadaran itu disebabkan oleh setidaknya tiga faktor utama, yaitu: Kitab Suci Alquran, sejarah, dan pendidikan. Sudah seringkali dikemukakan oleh banyak ahli (ulama) bahwa Alquran dengan tegas menyatakan keanekaragaman makhluk. Alquran secara khusus menegaskan keanekaragaman itu pada makhluk manusia.
Keanekaragaman manusia, tidak terbatas pada aspek lahiriahnya saja, melainkan meliputi juga aspek batiniahnya. Keanekaragaman manusia, bukan hanya karena terdiri atas jenis laki-laki dan perempuan atau berbeda-beda suku dan bangsanya, namun manusia juga beraneka ragam corak pemikiran, ideologi dan keyakinannya.
Keanekaragaman segi lahiriah dan batiniah manusia, ada di antaranya terjadi dan diterima begitu saja tanpa adanya pilihan sebelumnya. Contohnya adalah lahir sebagai manusia (bukan hewan atau tumbuhan) yang berjenis perempuan (bukan laki-laki), bersuku Bugis (bukan Papua, misalnya), dan beragama Islam( bukan Hindu, misalnya).
Kenyataan sejarah menyadarkan manusia untuk menerima sesuatu sebagai hal yang tidak bisa ditolak. Apa yang disebut Islam Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah adalah produk sejarah kaum Muslimin. Nabi Muhammad saw, dan kaum Muslimin pada zaman Nabi dan zaman Khulafa Rasyidin bukanlah Sunni atau Syiah atau Ahmadiyah sebagai yang dipahami sekarang.
Ke-Sunni-an, ke-Syiah-an, dan ke-Ahmadiyah-an yang dikenal sekarang adalah hal-hal yang lahir, tumbuh, dan berkembang dalam sejarah kaum Muslimin sesudah kedua masa yang sudah disebutkan.
Ketiganya adalah peta besar kaum Muslimin di planet ini. Sedang peta-peta kecilnya mengambil bentuk berupa firqah-firqah dan sempalan-sempalan Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah.
Muhammadiyah dan NU adalah contoh dua firqah Sunni. Sedang kelompok atau figur akhir-akhir ini mengundang berita sebagai nabi atau agama "baru" dapat dikatakan sebagai sempalan Sunni.
Adapun faktor pendidikan, membuat seorang Muslim semakin sadar dan bersikap positif terhadap keanekaragaman mereka, lahiriah-batiniah, atau jasmaniah-rohaniah.
Karena itu, wajar saja, kalau slogan perjuangan yang dipakai pun beranekaragam. Ada misalnya, "terciptanya insan akademis yang bernapaskan Islam", "membangun masyarakat Islam", "masyarakat sipil Islami", "terwujudnya masyarakat madani", "penegakan syariat Islam", "menuju khilafah", dan banyak lagi aneka ragam lainnya.
Semoga itu semua merupakan bunga-bunga yang jika dirangkai akan enak dipandang dan jika berjejaring akan menjadi sumber kebajikan bagi segenap alam. Alhamdulillah, keanekaragaman sebagai ajaran Kitab Suci, terbukti dalam sejarah dan disikapi secara positif oleh mereka yang berpendidikan. (**)
|
|
|
|
|
|
|
|