|
Opini
Sabtu, 06-02-10 | 22:23 | 190 View
Sensasi dan Opsi Nasional Demokrat Oleh: H Sukman Baharuddin (Pemerhati Sosial-Politik)
H Sukman Baharuddin Meski usianya masih berbilang hari, sejak dideklarasikan pada 1 Februari 2009, ormas Nasional Demokrat (Nasdem) ternyata mendapat respons publik yang cukup sensasional untuk ukuran sebuah ormas baru berskala nasional.
Proses dan kehadirannya menjadi topik diskusi yang hangat diperbincangkan di berbagai media dan wilayah, tidak hanya oleh kalangan pengamat, melainkan juga ditingkat grass root, bahkan kini ramai merambah ruang-ruang diskusi para penggiat IT.
Antusiasme masyarakat untuk membincangkan Nasdem, tentu saja dilatari oleh berbagai pandangan menurut versi masing-masing. Koran ini misalnya, pada edisi 4 Februari 2009 menurunkan tulisan Arman Syarif yang mengulas sekilas tentang "kelebihan dan kelemahan" Nasdem. Pada kesempatan ini, penulis mencoba mengulas Nasdem, lebih pada sisi pertanyaan, mengapa ia begitu seksi di mata publik saat ini.
Setidaknya ada tiga alasan mengapa Nasdem begitu seksi dan sensual. Pertama, karena alasan kejenuhan rakyat dalam berpolitik. Disadari atau tidak, atensi publik saat ini berada pada titik nadir yang sungguh memilukan dalam memaknai politik dan berpolitik.
Peran partai politik yang dimainkan para politikus, lebih banyak dipahami oleh rakyat sebagai institusi yang tidak lagi murni memerankan fungsinya sebagai sebuah instrument penting dalam berdemokrasi.
Ya, para politikus hanya sibuk mempertontonkan bagaimana mereka memainkan politik dan berpolitik.
Kehidupan politik dan perilaku politik hanya dipenuhi dengan atmosfir politicing. Politikus dan perilaku politiknya, tidak mampu lagi (atau sengaja) untuk tidak merepresentasikan diri sebagai pengemban amanah, penyerap aspirasi dan nurani rakyat.
Pada saat ini, rakyat membutuhkan sesuatu yang lebih konkret dari politik, yakni bagaimana politik mampu mengatasi berbagai persoalan hidup rakyat secara lebih praktis.
Kepentingan rakyat sesungguhnya sederhana saja, yaitu bagaimana mengelola politik sehingga rakyat mendapatkan kebutuhannya dengan harga-harga yang lebih murah, pendidikan dan kesehatan yang lebih terjangkau, kesempatan kerja yang semakin terbuka, keamanan yang semakin kondusif, dan bukannya kehidupan politik yang justru semakin menjauhkan mereka dari tujuan dan esensi berpolitik itu sendiri.
Mereka lalai pada janji sebagai pengemban amanat rakyat untuk memerankan politik dengan tujuan utamanya, yakni bagaimana menyejahterakan rakyat.
Saling serang dan saling membela diri, atau saling berebut demi menyejahterakan diri masing-masing, bahkan kadang disertai dengan cara-cara yang tidak santun, merupakan rangkuman pemandangan sehari-hari, justru ketika rakyat kebanyakan sedang diperhadapkan dengan kenyataan hidup yang semakin sulit.
Kedua, kecenderungan government awareness (kesadaran berpemerintahan) saat ini sedang mengalami masa-masa yang memprihatinkan. Puncak merendahnya kesadaran berpemerintahan ini antara lain terlihat pada saat berlangsungnya berbagai demo untuk memperingati 100 hari pemerintahan SBY.
Tampak jelas di sana betapa pemerintah telah mengalami proses desakralisasi bahkan delegitimasi yang sebelumnya belum pernah terjadi.
Penggunaan berbagai atribut dan cara berdemo yang seolah merendahkan simbol-simbol pemerintah, seolah merupakan sebuah kewajaran dalam berdemokrasi. Dalam kondisi sedemikian itu, pemerintah juga selalu bersikap responsif dengan sikap dan cara yang defence.
Politik curhat dan curhat politik yang dilakukan oleh presiden, justru semakin menambah kegamangan rakyat, bagaimana sesungguhnya peran dan positioning lembaga kepresidenan dalam menyikapi berbagai persoalan kebangsaan.
Pemerintah sebagai bapak rakyat, telah mengalami pergeseran makna menjadi sekadar sebagai sebuah lembaga ke-berkuasaan, yang memiliki kekuasaan untuk lebih banyak menyejahterakan diri ketimbang hirau pada kesejahteraan rakyat.
Isu pesawat terbang, mobil mewah, fasilitas melimpah untuk para pejabat negara, hanyalah bagian kecil dari berbagai kebijakan pemerintah, justru merupakan persoalan besar dan penganiayaan terhadap rasa keadilan rakyat.
Ketiga, proses reformasi dengan mimpi indah untuk menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara hukum. Pada kenyataannya institusi hukum kita, di mata rakyat telah berubah fungsi menjadi monster penghukum bagi orang-orang tak berdaya sekelas Minah, Prita, atau Antasari sekalipun.
Berbagai kasus hukum, akhirnya harus diselesaikan dengan cara dan pendekatan yang kadang justru tidak memenuhi rasa keadilan rakyat. Tebang pilih dan atau uang adalah hukum, sudah merupakan tesis rakyat yang dalam banyak kasus memang tak terbantahkan lagi.
Reformasi Misoriented
Uraian di atas, tentu saja masih bisa ditambah atau ditambah-tambah, untuk dapat lebih menggambarkan betapa sesungguhnya bangsa ini memang sedang "sakit" dan berada pada track yang misoriented. Kita memang sakit karena institusi politik, demokrasi, pemerintah, dan hukum, tidak lagi mampu menjalankan fungsi dan perannya secara sehat dan menyehatkan.
Kondisi ini kemudian semakin parah oleh karena nyaris seluruh institusi politik, kini tak berdaya karena telah terkooptasi dan berada di bawah oligarki kekuasaan, yang dalam menjalankan kekuasaannya menggunakan caranya sendiri. Rakyat hanya kebagian tugas untuk take apa saja yang given dari penguasa, semata karena terbius oleh retorika yang indah dan melenakan.
Kita juga sedang berada pada track yang misoriented dalam berdemokrasi. Janji-janji indah reformasi, setelah berjalan lebih dari satu dekade, ternyata belum mampu membuahkan sesuatu yang cukup berarti untuk membawa kemajuan dan kesejateraan bagi rakyat. Kita masih disibukkan untuk bagaimana belajar atau menghajar politik dan demokrasi.
Penulis sadari betul bahwa pandangan di atas, terkesan sumir dan jauh dari kesan ilmiah, tapi penulis yakin bahwa secara empirik, inilah sesungguhnya cara pandang rakyat kebanyakan pada saat ini.
Dalam situasi bangsa yang tidak sehat, tentu saja menjadi wajar bila rakyat kemudian mencari terapi yang sehat dan menyehatkan melalui berbagai pendekatan politik, demokrasi, pemerintahan, dan hukum yang sehat pula.
Sayangnya, kesempatan ini belum dimanfaatkan dengan baik oleh institusi tersebut di atas. Demikian pula ketika bangsa ini berada pada track yang misoriented, maka menjadi sebuah keniscayaan, perlu hadir sebuah institusi yang kredibel, memiliki power yang memadai dan energi yang energized, agar dapat mengembalikan arah dan orientasi perjalanan bangsa ke depan pada track reformasi yang sehat.
Dalam situasi dan kondisi bangsa yang tidak sehat dan misoriented seperti itulah, kehadiran Nasdem tampaknya memberi secercah harapan bagi rakyat. Bangsa dan rakyat butuh sebuah institusi yang kredibel, yang diisi oleh tokoh dengan reputasi yang mumpuni, memiliki integritas yang tak meragukan, dan tentu saja Kompeten.
Nasdem tampaknya mampu menjawab semua itu. Inisiator dan deklarator Nasdem sebagaimana dapat disaksikan oleh rakyat melalui berbagai media, memenuhi sebagian besar harapan itu. Meskipun pada akhirnya sejarah jualah yang akan membuktikannya.
Tentu saja penjelasan sepihak ini, mungkin saja tidak cukup ilmiah untuk dicerna oleh kalangan tertentu, akan tetapi penulis yakin bahwa uraian di atas, adalah cerminan dari wajah kita yang sesungguhnya pada hari ini. Bangsa ini butuh sikap dan perilaku berbangsa yang nasionalis tapi demokratis, yang demokratis tapi nasionalis. Semoga. (**)
|
|
|
|
|
|
|
|