Untitled Document
Nusantara
Rabu, 30-12-09 | 08:48 | 9 View
Pidato 10 Menit, Boediono tak Singgung Dana Pendidikan


(Foto, Int)
GORONTALO -- Di pengujung 2009, Wapres Boediono bertandang ke Provinsi Gorontalo kemarin (29/12). Dalam lawatan perdana ke Provinsi Inovasi itu, Wapres Boediono meluangkan waktu untuk bertatap muka dengan para siswa dan guru se-Gorontalo.

Di hadapan ratusan siswa dan guru itu, Wapres berpidato tentang pendidikan. Namun, dalam pidato yang disampaikan sekitar 10 menit tersebut, Boediono tak menyinggung berapa besar dana pendidikan yang bakal dialokasikan pemerintah pada 2010.

Boediono lebih banyak berbicara secara global bahwa pendidikan merupakan tugas seluruh stake holder. Tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga menjadi tanggung jawab swasta dan masyarakat.

Boediono baru berbicara soal anggaran pendidikan saat menjawab pertanyaan dari salah seorang siswa SMP Negeri 1 Gorontalo. Sang siswa menanyakan tentang relevansi antara dana bantuan operasional sekolah (BOS) dan sekolah gratis. Sebab, besaran dana BOS yang dialokasikan belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan biaya pendidikan di daerah.

Jawaban yang disampaikan Boediono pun bersifat umum. Boediono menceritakan bahwa pemerintah dari tahun ke tahun terus berusaha menaikkan anggaran untuk peningkatan mutu pendidikan. "Pemerintah terus berusaha memikirkan dunia pendidikan. Minimal jaminan anggaran pendidikan yang diamanatkan oleh undang-undang, yakni 20 persen dari total anggaran belanja pemerintah," ujar Boediono.

Selain menyangkut dana pendidikan, dalam pidato pengantar, Boediono tak menyinggung upaya pemerintah untuk memperbaiki nasib/kesejahteraan guru. Perhatian pemerintah untuk perbaikan nasib guru baru disampaikan Boediono setelah salah seorang guru daerah terpencil di wilayah Kabupaten Gorontalo, Rustam Tangahu, menanyakan tentang pengalihan tenaga guru yang berstatus honorer.

"Pengalihan tenaga honorer menjadi PNS ini tentunya membutuhkan proses. Yang jelas, pemerintah terus berupaya agar kesejahteraan guru dari waktu ke waktu semakin baik," ungkap Boediono.

Bangkitkan Kejayaan Gorontalo

Sebelumnya, saat berpidato di hadapan ratusan siswa dan guru, Boediono mengemukakan bahwa pada zaman Belanda, Gorontalo merupakan pusat pendidikan di Kawasan Timur Indonesia. Banyak tokoh nasional maupun internasional yang melewati pendidikan di Gorontalo.

"Oleh karena itu, Gorontalo ke depan diharapkan bisa kembali menjadi pusat pendidikan di Kawasan Timur Indonesia. Ada dua hal penting dalam pembangunan pendidikan, yaitu akses (jangkauan) dan kualitas," ujar Boediono.

Lebih lanjut Boedino mengatakan, dalam era globalisasi, persaingan berlangsung cukup keras. Karena itu, menurut Boediono, sejak dini harus dipersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin yang andal.
"Upaya mendidik dan mencerdaskan generasi adalah tugas kita semua. Sehingga, ke depan dapat dihasilkan pemimpin-pemimpin yang andal. Dan, yang paling utama adalah kesiapan siswa untuk menjadi calon-calon pemimpin yang andal," ujarnya.

Di sisi lain, Boediono berharap agar guru dapat menjadi teladan bagi siswa. "Nilai-nilai untuk menciptakan pemimpin yang andal tidak bisa hanya diajarkan, tetapi harus dicontohkan. Oleh karena itu, guru harus bisa menjadi panutan bagi anak siswa," tegas Boediono. (GP-71/jpnn/agm)

Share |