Untitled Document
Opini
Jumat, 23-10-09 | 01:26 | 876 View
Menyikapi Kehadiran Miyabi dan Julia Roberts
Oleh: Muhsin Mahfudz (Dosen UIN Alauddin Makassar)


Sebelum ramai di media, mungkin tidak banyak yang mengenal siapa Maria Ozawa atau Miyabi. Dari media pula diketahui bahwa Miyabi adalah seorang bintang film dewasa berkebangsaan Jepang. Mengapa Ia sempat mengalihkan sejenak perhatian orang dari tragedi kemanusiaan di Padang-Pariaman?

Konon, seorang Miyabi kadang mampu meraup miliaran rupiah dalam sebulan dari profesinya sebagai bintang film dewasa. Jika itu betul, Miyabi tentu adalah perempuan yang menikmati pekerjaan yang ia pilih.

Sama sekali bertolak belakang dengan apa yang digambarkan penyanyi lawas kawakan Indonesia, Titiek Puspa, dalam lagunya "Pramuria". Lagu itu menggambarkan bahwa kehidupan seorang pramuria adalah sebuah keterpaksaan.

Di balik senyum yang dikulum manis nan manja, ada duka yang mendalam jauh di dalam lubuk hatinya. Sehingga tokoh perempuan yang digambarkanya tak ubahnya seorang artis yang memerankan peran ganda pada saat yang sama.

Bahkan, diberitakan bahwa Miyabi sempat melawan ketidak-setujuan orang tuanya atas profesi yang dipilihnya. Miyabi membutakan matanya, menulikan telinganya dari cercaan yang dapat menjauhkannya dari pilihan sebagai artis film dewasa.

Entah mengapa, Maxima Picture, sebuah Production House (PH) di Indonesia menggarap sebuah film komedi "Menculik Miyabi" dan bermaksud mendatangkan Miyabi ke negeri ini sebagai pemeran utamanya menjelang pembentukan pemerintahan baru dan sepekan menjelang peringatan hari Sumpah Pemuda.

Meskipun, tanggal 14 Oktober 2009 lalu, sebagai hari rencana shooting perdana film tersebut, akhirnya batal dengan alasan keamanan, bukan alasan penolakan. Mungkin, menanti dinginnya suasana Miyabi akhirnya akan datang juga. Entahlah.

Satu lagi, aktris kawakan Hollywood, Julia Roberts, bahkan telah menjalani proses pengambilan gambar di Pulau Dewata Bali dalam rangka pembuatan film "Eat, Pray, Love". Ada riak penolakan, tetapi bukan terhadap sang bintang melainkan hanya persoalan kompensasi lahan parkir. Mengapa Julia tidak ditolak?

Apakah karena ia tidak pernah memproklamirkan diri sebagai bintang film dewasa, meskipun dalam berbagai filmnya Ia juga kerap melakoni adegan panas?

Menolak atau Mempopulerkan?

Kelihatannya, bangsa ini masih sering tidak arif dalam merespons isu-isu tertentu. Paling menyedihkan jika yang diseret-seret adalah alasan keagamaan. Berbagai LSM berbasis Islam, bahkan organisasi berbasis keulamaan turut memberikan respons yang justru memperkuat asumsi bahwa isu seperti penolakan kedatangan Miyabi adalah isu Islam.

Padahal, di luar Islam pun tidak pernah sepakat bahwa pornografi adalah perilaku yang baik. Mungkin lebih elok jika kita sedikit menggunakan strategi dalam merespons suatu isu, apakah bermanfaat atau tidak jika dijadikan isu agama.

Sebetulnya, soal kedatangan Miyabi ke Indonesia terlalu sepele dijadikan isu Islam karena cukup dengan pertimbangan rasional orang akan menilai bahwa film dewasa yang dibintangi oleh Miyabi adalah "menjijikkan". Sebaliknya, dengan respons yang berlebihan malah akan mendongkrak popularitas Miyabi.

Terbukti, setelah kedatangan Miyabi ditentang, sejumlah toko kaset/CD di Jakarta, mungkin juga di Makassar, menjadi ramai dikunjungi orang untuk mencari tahu seperti apa acting si bintang "hot" tersebut.

Bahkan, Cathy Sharon, seorang artis presenter, berpendapat bahwa film komedi yang dibintangi oleh Miyabi akan meledak karena adanya kontroversi sebelum penggarapan dimulai. Katanya, film itu adalah bagian dari art of expression (Fajar: 30/09/09). Jika demikian, tidakkah dapat dikatakan bahwa Islam yang menentang, Islam pula yang mempopulerkan?

Sebagian kita seakan melupakan prinsip al-hikmah (kearifan) dan al-mau'izhah al-hasanah (ketatakramaan) dalam mengajak orang lain kepada kebaikan. Bahkan, jika terpaksa harus protes lakukanlah dengan cara yang lebih santun (QS 16:125). Artinya, prinsip amar makruf nahi munkar dalam Islam bukanlah alasan untuk merespons secara spontan tanpa metode dan strategi.

Saya khawatir, jika protes-protes terhadap fenomena yang resisten terhadap Islam dilakukan secara serampangan bahkan disertai dengan ancaman dan cenderung anarkis atau mengabaikan metode dan strategi yang santun, bukan tidak mungkin, akan semakin mencoreng wajah kesejukan Islam.

Elite Islam atau kelompok-kelompok dalam Islam hendaknya sedikit "politis" dalam berdakwah, apa yang membawa manfaat (mashlahah) terhadap umat manusia itulah yang layak direspons, sebaliknya, apa yang dapat merugikan (mafsadah) citra Islam tidak perlu direspons berlebihan.

Bisa jadi kita malah meniru-niru perilaku orang musyrik seperti yang difirmankan oleh Allah: "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan". (QS 6:108). Sedikit saja sisi keberagamaan kita disinggung maka kita balas dengan umpatan yang berlebihan.

Lebih elok menyikapi sesuatu secara proporsional, karena seburuk apapun seseorang pasti ada sisi baiknya, dan sebaik apapun seseorang pasti ada sisi buruknya.

Mungkin masih ingat kisah tentang seorang wanita penghibur yang penuh dosa masuk surga hanya karena pernah menolong seekor anjing yang kehausan di tengah padang pasir yang panas. Bisa jadi, di zaman sekarang wanita itu adalah Miyabi atau Julia Roberts.

Dan siapa nyanah jika mereka datang ke Indonesia lalu mereka tersentuh melihat banyak rakyat Indonesia kesulitan akibat kemiskinan atau bencana alam, kemudian mereka menolong dan merekapun kelak masuk surga karena yang ditolong bukan lagi anjing tetapi anak bangsa yang menderita. Bahagialah, karena kita mampu mengajak para pendosa masuk surga.

Mungkin itu hanyalah pengandaian, tetapi marilah kita biasakan memandang setiap anak manusia sebagai manusia. Hendaknya kita belajar untuk menyikapi setiap persoalan dengan cara yang elegan. Mungkin masih banyak problem di sekeliling kita yang justru lebih mengancam moralitas generasi kita dibandingkan merespons ancaman dari luar yang akan merusak citra kedirian bangsa dan agama. Wallahu a'lam bissawab. (**)

Share |