|
Opini
Senin, 27-04-09 | 21:43 | 64 View
Flu Singapura dan Epidemiologi Global Oleh: Fatmah Afrianty Gobel
Akhir-akhir ini muncul kasus flu jenis baru yang disebut Flu Singapura. Flu jenis ini jadi perbincangan sejak delapan balita di kawasan perumahan elite Bella Cassa, Kelurahan Tirjajaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok terjangkit penyakit tersebut.
Gejala pada balita tersebut adalah peningkatan suhu badan (demam) hingga 38 derajat Celcius, ada bercak-bercak merah di telapak kaki dan tangan, tenggorokan meradang dan mengalami sariawan pada rongga mulut.
Penyebaran Flu Singapura di kawasan perumahan tersebut diduga dengan cara penularan melalui udara dan kontak antar-manusia karena jarak rumah antar-penderita hanya sekitar 100 meter, selain kondisi air (air tanah dan PAM) yang digunakan sangat buruk. Jangka waktu penularannya relatif cepat berkisar dua minggu.
Meski penularannya cepat, ternyata penyembuhannyapun dapat berlangsung cepat antara lima-sepuluh hari dengan perawatan intensif. Salah satu metode penyembuhan yang disarankan adalah meninggikan kadar kalori dan protein pada asupan makanan balita yang terserang sehingga memiliki daya tahan tubuh terhadap serangan Flu Singapura.
Penyebab Flu Singapura pada warga Depok ditengarai oleh virus RNA (ribonucleic acid) yang dapat menular melalui hubungan antar-manusia dan melalui udara seperti kontak langsung, batuk, urine, feces, air liur, tinja maupun pilek.
Sebelumnya, kasus sejenis pernah pula terjadi di kawasan perumahan elite lainnya di Kota Depok, yakni Kawasan Pesona Khayangan pada 2003 lalu. Sehingga diduga penyakit ini menyebarkan pada orang-orang yang memiliki tingkat mobilitas yang tinggi keluar negeri.
Flu Singapura
Flu Singapura yang merebak di Depok, Jawa Barat dikenal dengan nama Penyakit Tangan, Kaki dan Mulut (TKM) atau Hand Foot Mouth Disease (HFMD). Penyakit TKM juga mewabah di China dan telah memakan korban jiwa. Namun meski punya nama sama, penyakit jenis ini di Indonesia tidak (belum) memakan korban jiwa, di samping tingkat insidensinya masih rendah.
Berdasarkan sejarahnya, penyakit TKM sudah berlangsung lama di dunia, namun mulai dicatat ketika terjadi KLB (kejadian luar biasa) di Toronto, Kanada pada 1957. Setelah itu banyak insidensi dan ledakan kasus yang mengakibatkan kematian di Singapura. Karena terjadinya kebanyakan di Singapura dan gejalanya mirip penyakit flu, maka disebutlah Flu Singapura.
Sebenarnya Penyakit TKM ini merupakan jenis penyakit kulit. Penyakit ini disebabkan oleh virus RNA dan dapat menyerang anak dan bayi sepanjang tahun. Penyebutan penyakit flu lebih disebabkan karena gejala penyakit ini hampir mirip dengan penyakit influenza. Pada anak yang terserang Penyakit TKM, ditandai dengan meningkatnya suhu badan pada awal terjangkitnya penyakit.
Selain suhu badan meninggi, juga sering disertai mual-mual, batuk-pilek disertai nafsu makan menurun. Setelah itu muncul bercak-bercak atau vicikel mirip cacar air pada tangan dan kaki, sedang pada rongga mulut serasa muncul sariawan.
Bercak dan lepuhan pada kulit berisi cairan bening yang mengandung virus sehingga mudah menular pada orang lain melalui air ludah, bersin, sentuhan pada kulit yang mengandung bercak dan kontak antar-manusia melalui perantara barang-barang yang sering digunakan sehari-hari seperti pakaian, handuk dan semacamnya.
Selain Flu Singapura, masih banyak penyakit lainnya yang menggunakan kata "flu", namun sebenarnya bukan jenis penyakit influenza. Penyakit tersebut adalah: pertama, Flu Hongkong (avian influenza/flu burung) yang muncul pada Maret 1997 ketika menyerang unggas di Hongkong; kedua, Flu Babi yang awalnya menyebar dari sebuah peternakan babi di daerah Midwest, Amerika Serikat; ketiga, Flu Tulang yang berasal dari virus flu yang menyebabkan gangguan fungsi pada sistem tubuh dan membuat tubuh mengalami peradangan berupa nyeri otot dan tulang disertai munculnya warna kemerahan pada mukosa sebagai indikasi melebarnya pembuluh kapiler di bawahnya; keempat, Flu Perut juga berasal dari toksin yang dihasilkan virus flu sehingga menyebabkan gangguan pada fungsi usus dan sistem pencernaan seperti gejala mual, muntah, mulas dan diare.
Penyakit TKM adalah jenis penyakit infeksi oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae, Genus Enterovirus (non polio). Genus yang lain adalah Apthovirus, Cariovirus, dan Rhinovirus. Sedang dalam Genus Enterovirus terdiri atas Coxsackie A Virus, Coxsackie B Virus, Echovirus dan Enterovirus. Bagi penderita TKM yang dirawat intensif sampai meninggal adalah Enterovirus17, sedang pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16.
Penyakit TKM sering terjadi pada musim panas dan kerap menyerang anak-anak usia 0-10 tahun yang masih rentan terhadap enterovirus dengan masa inkubasi antara dua hingga lima hari. Penularannya melalui jalur pencernaan (fekal-pral) dan saluran pernafasan serta kontak tidak langsung melalui barang-barang sehari yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Selain itu penyakit TKM ditularkan melalui pembawa (carrier) seperti kecoa, lalat dan sejenisnya.
Seorang yang terserang penyakit TKM dianjurkan untuk istirahat yang cukup disertai pengobatan yang spesifik berdasarkan keadaan klinis. Salah satu pengobatan yang bisa diberikan adalah Extracorporeal membrane oxygenation dan pada pasien neonates atau imunokompomis adalah Immunoglobulin IV (IGIV).
Sedang bila menggunakan pengobatan simptomatik adalah pemberian antiseptik di daerah mulut, analgesik (misalnya parasetamol), cairan secukupnya bagi yang sulit minum, dan pengobatan lainnya berupa asupan gizi dan protein.
Sebenarnya penyakit TKM bisa dicegah dan dikendalikan. Pencegahan secara individual misalnya dengan membiasakan cuci tangan, desinfeksi peralatan makan-minum dan barang-barang keperluan sehari-hari yang dapat terkontaminasi.
Sedang pencegahan secara kelompok dengan cara membersihkan lingkungan perumahan dan menerapkan sanitasi yang baik seperti membuang sampah pada tempatnya, drainase yang bersih dan seterusnya.
Pengendalian secara kelompok menjadi kewajiban pemerintah melalui Departemen Kesehatan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan pemerintah misalnya dengan meningkatkan surveilans epidemiologi secara periodik, melakukan promosi kesehatan melalui penyuluhan tata cara pencegahan penularan penyakit TKM secara berkala, melakukan penyuluhan kesehatan lingkungan secara rutin utamanya tanda dan gejala penyakit TKM, dan kegiatan sejenisnya yang relevan.
Penyakit TKM juga sering dikategorikan sebagai self limiting diseases yaitu penyakit yang dapat sembuh sendiri dalam rentang waktu tujuh hingga sepuluh hari. Syaratnya adalah istirahat yang cukup karena penderita TKM memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Bila penderita TKM yang membutuhkan perawatan biasanya penderita yangsudah komplikasi dan gejala berat.
Epidemiologi Global
Dalam manajemen pengendalian penyakit dikenal dua perspektif. Menurut Prof Dr Umar Fahmi (2005), dua perspektif itu adalah epidemiologi global yakni mempelajari perjalanan penyakit antar-benua; dan epidemiologi lokal yakni dinamika transmisi penyakit tertentu pada wilayah tertentu.
Pada perspektif epidemiologi global dipercaya bahwa penyakit menular itu bersifat global. Penyebaran global memiliki potensi terjadinya pandemik. Karena itu seorang Kepala Dinas Kesehatan harus memahami daerahnya, apakah termasuk lalu lintas internasional atau bukan, sebab epidemiologi global harus mempelajari kejadian dan persebaran dalam perspektif dunia seperti asal datangnya penyakit dan melalui apa penyakit itu datang.
Selain itu, migrasi berbagai binatang seperti migrasi burung antar-benua bisa merupakan sumber pembawa penyakit, seperti perjalanan burung kelelawar yang dapat menyebarluaskan virus Nipah.
Berbeda dengan epidemiologi global, pada epidemiologi lokal berkaitan dengan dinamika transmisi lokal. Pada setiap Kepala Dinas Kesehatan harus mampu memetakan atau menggambarkan model dinamika transmisi penyakit tertentu.
Maka dari itu harus dipelajari dan digambarkan tujuan pemutusan mata rantai penularan. Sebagai contoh, adalah penyakit malaria. Setiap kawasan/daerah memiliki spesies nyamuk yang berbeda serta pola perilaku penduduk yang terkena risiko penularan pun berbeda. Jadi semua komponen variabel yang berperan harus diidentifikasi dan harus dipelajari.
Dalam kaitannya dengan diskusi penyakit Flu Singapura, maka jenis penyakit ini masuk dalam domain epidemiologi global. Mengingat persebaran secara global, maka pola pengendalian tetap bersifat lokal karena untuk membendung datangnya virus tidak bisa secara insidental tetapi harus berkesinambungan dan terorganisir.
Misalnya langkah pemerintah sekarang ini dalam mencegah Flu Singapura dengan memasang pengawas suhu badan di Bandara Soekarno Hatta, terkesan insidental. Sementara bandara internasional lainnya di Indonesia seperti Bandara Hang Nadim di Batam, Bandara Ngurah Rai di Denpasar atau mungkin Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar belum terdengar menggunakan perangkat tersebut. Di sinilah dibutuhkan pengendalian penyakit global dengan langkah-langkah antisipatif yang berkelanjutan dan terprogram. (*)
|
|
|
|
|
|
|
|