Topic
Sun,05 January 2014 | Dibaca oleh Pengunjung

Berkat Silat dan Gareth Evans

THE Raid 2: Berandal bakal rilis di Amerika, Maret mendatang. Iko Uwais kembali jadi sosok penting di situ. Ya, si anak Betawi itu.

Dia semata-mata suka olahraga. Mendalami silat dan sepak bola. Namun, keduanya hanya hobi. Pemilik nama lengkap Uwais Qorny itu tetap harus melakukan hal lain untuk mendapatkan uang. Iko jadi sopir truk sebuah perusahaan telekomunikasi.

Sejak berusia 10 tahun, dia belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat, di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai. Beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta.

Dia bajkan menjadi pesilat terbaik dalam kategori demonstrasi di kejuaraan silat nasional pada 2005. Iko juga seorang pesepak bola. Spesialis gelandang dan pernah tergabung dalam sebuah klub divisi. Sayangnya, kebangkrutan klub itu membuat impiannya jadi pesepak bola pro juga kandas.

Iko pun hanya bisa terus mendalami jurus-jurus silatnya. Sembari tetap menguatkan diri untuk menyetir mobil truk. Hingga pada 2007, bakat silat Iko ditemukan sutradara film Wales, Gareth Evans yang sedang melaksanakan proses syuting untuk sebuah film dokumenter di perguruan Iko.

Evans tertarik menjaidkan Iko pemeran utama pada film seni bela diri pertamanya, Merantau. Kontrak pun diteken. Durasinya lima tahun. Sejak saat itu, Iko memutuskan berhenti jadi sopir truk dan memulai asa menjadi aktor.

Di film Merantau, Iko berperan sebagai seorang pemuda Minang dari Sumatera Barat. Pria kelahiran Jakarta, 12 Februari 1983 itu pun mesti mempelajari silat harimau khas Minang dari guru silat, Edwel Datuk Rajo Gampo Alam.

Merantau meraih hasil yang sama sekali tak dibayangkan Iko. Rilis di Indonesia pada 6 Agustus 2009, film ini ditampilkan dalam Puchon International Fantastic Film Festival di Puchon, Korea Selatan dan Fantastic Fest di Austin, Texas. Merantau dianugerahi film terbaik di Action Fest 2010.

Kolaborasi kedua Iko dengan Gareth Evans adalah sebuah film yang disebut The Raid. Film ini ckemudian dirilis dengan judul internasional "The Raid: Redemption. The Raid ramai diperbincangkan kritikus film dunia dan disebut-sebut salah satu film bela diri terbaik yang pernah ada.

Iko kini jadi aktor. Padahal saat di "Merantau", dia amat susah menjalani proses syuting. Hanya jurus yang dia tahu. Sedangkan soal akting, dia terbatas. Misalnya ketika menangis namun tetap terlihat seperti jagoan.

Salah satu yang membuat Iko gugup kala itu adalah kehadiran aktris kawakan Indonesia, Christine Hakim. Dia canggung bermain dengan pemain besar. Namun, Chistine juga yang membantunya menemukan kepercayaan diri.

"Wah...nggak kebayang perasaan saya waktu itu,  beliau kan idola semua orang dari orang tua sampai anak kecil. Beliau tuh orangnya nggak menggurui tetapi merangkul dan membantu banget. Dan karena rangkulannya jadi merasa kayak ibu saya sendiri," akunya.

Kini, suami Audy Item itu bersiap kembali mengguncang perfilman dunia melalui sekuel The Raid. Siapa sangka, si sopir truk itu kini jadi aktor dengan bayaran mahal dan bereputasi internasional. Silat yang dipilihnya sebagai jalan hidup, telah mengangkat nama dan kehidupannya. (zul)

banner