Topic
Mon,09 September 2013 | Dibaca oleh Pengunjung

Kasus Dul, Bukti Salah Pengasuhan

MAKASSAR, FAJAR -- Insiden kecelakaan lalu lintas yang dialami putra Ahmad Dhani, Ahmad Abdul Qodir Jaelani alias Dul menjadi pelajaran berharga bagi setiap orang tua. Ini merupakan bias dari pola pengasuhan yang terlalu memanjakan anak.

Psikolog Universitas Negeri Makassar (UNM), Asniar Khumas mengatakan kecelakaan yang menewaskan enam orang dan sembilan luka-luka ini menjadi bukti kesalahan pola asuh orang tuanya. Bahkan dalam kacamata psikologi, Dul dinilai sebagai korban dari era materialistis yang keliru.

"Pola pengasuhan orang tua yang cenderung memanjakan anaknya dengan hal-hal yang bersifat material telah melahirkan bias perkembangan mentalnya," kata Asniar kepada FAJAR malam tadi.

Perempuan yang meraih doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menilai anak memiliki fase pertumbuhan yang harus diamati orang tua. Pada fase 12 sampai dengan 17 tahun, disebut dengan fase pengenalan lingkungan dengan mulai melibatkan hasrat peniruan yang sangat rentan.

Itu sebabnya, pada fase ini anak-anak juga sudah mulai mengalami masa pubersitas. Dengan demikian, orang tua, tidak boleh lengah karena jika tanpa pengawasan yang baik, maka potensi perkembangan mentalnya kearag negatif sangat mungkin terjadi.

"Kesalahan besar orang tuanya yang memberikan kepercayaan mengemudikan kendaraan pada usia rentan seperti itu. Anak sebelum menginjak usia 17 tahun memang belum bisa secara emosi menguasai diri sehingga mudah lepas kontrol," ucap Asniar.

Asniar berharap orang tua benar-benar mengambil pelajaran dari sini. Pasalnya, dengan dalih apapun yang selalu diutarakan orang tuanya di layar televisi bahwa pengasuhan berjalan dengan terbantahkan.

Dengan anak keluyuran hingga tengah malam, bahkan sampai dini hari membuktikan ketegasan mendisiplinkan anak tidak ada. Padahal, pada usia ini, anak harus diajari bersikap disiplin dan menghargai aturan waktu.

Hal ini kata dia, juga menjadi cermin betapa buruknya pengaruh modernitas yang mengarah pada sikap pragmatis pada perkembangan anak. Bahkan suatu kesalahan besar menurutnya, karena stigma sebagian orang tua saat ini yakni bangga jika anaknya tampil beda dengan anak pada umumnya.

Sekalipun, tanpa dia sadari yang dilakukan tersebut menyimpang dari perilaku anak yang seharusnya. Anak dianggap perkembangannya bagus jika mampu tampil fesionebel dan mampu berkarakter jauh dari usianya.

"Ini jelas salah. Masalahnya belum sampai pada masanya sudah dipaksa melakukan hal tersebut. Saya mau katakan, mengajak anak disiplin pada saat sudah ada di bangku SMA sudah terlambat. Justru pada saat SMP lah waktu yang paling tepat," tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dul terlibat dalam kecelakaan lalu lintas di Tol Jagorawai, Minggu, 9 September dinihari kemarin. Mobil sedan Dul menabrak pembatas tol dan dua mobil secara beruntun. Enam korban tewas dan beberapa korban luka-luka dalam kejadian itu.
 
Dul Tersangka

Pihak kepolisian telah mendalami kasus kecelakaan maut di Tol Jagorawi tersebut. Dul ditetapkan sebagai tersangka dalam kecelakaan yang menewaskan 6 orang dan 9 orang luka-luka itu.

"Kaitan dengan kasus kecelakaan ini, Dul statusnya tersangka karena yang mengemudikan mobil adalah Dul. Mobil tersebut hilang kendali, menabrak pembatas tol, menabrak Gran Max sehingga mengakibatkan 6 orang meninggal dunia dan 9 orang lainnya luka-luka," jelas Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan, kemarin.

Atas kelalaiannya dalam berkendara sehingga mengakibatkan orang lain luka dan meninggal, Dul dijerat dengan Pasal 310 UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Penetapan tersangka terhadap Dul, kata Rikwanto berdasar fakta di lapangan bahwa kendaraan Lancer B 80 SAL hilang kendali sehingga mengakibatkan kecelakaan dengan menabrak Gran Max. Seperti diketahui mobil Dul itu sempat oleng dan 'menyebrang' ke arah yang berlawanan.

"Karena pasal tidak mengantongi SIM itu kan bagi orang dewasa yang mengemudikan kendaraan, sementara ini anak di bawah umur, sudah jelas dia tidak boleh mengemudikan kendaraan," terangnya.

Rikwanto juga menambahkan kesalahan Dul tidak bisa dilimpahkan pada Ahmad Dhani sebagai orang tua.  "Dalam UU Lalulintas, UU pidana, tidak ada pidana dilimpahkan ke orang lain. Tetap yang bertanggung jawab yang melakukan," tegasnya.

Meski Dul telah ditetapkan sebagai tersangka, Rikwanto menambahkan, Dul akan tetap dilindungi hak-haknya sebagai seorang anak. "Kalaupun ada penangkapan, itu jalan terakhir kami lakukan."

Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Adrianus Meliala mengingatkan kepolisian jangan ada perlakuan khusus dalam kasus Dul.  "Kalau bicara kasusnya anak Hatta Rajasa ada indikasi Polri memberikan perlakuan yang berbeda, khusus, dan lunak. Kalau bisa yang ini jangan lagi," kata Adrianus.

Sedangkan Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait menilai peristiwa itu murni kelalaian orangtua.
"Dengan orang tua memberikan hadiah itu berarti memberikan kesempatan pada anak. Jadi, kasus ini adalah kelalaian orangtua," katanya.

Dhani pun terancam kehilangan hak mengasuh Dul. "Selama ini kan tanggung-jawab anak-anak lebih banyak ke ayahnya daripada ibunya. Jika dicabut hak asuhnya, bisa diserahkan pada ibunya atau negara karena kewajiban hukumnya (merawat, mengasuh dan membimbing) sudah dilanggar (Dhani)," jelas Arist. (arm-jpnn)

banner